Hamdhani : Idul Adha Momentum Perealisasian Makna Berkurban

Hamdhani : Idul Adha Momentum Perealisasian Makna Berkurban

Sejak 15 abad lalu, kedua perintah Haji dan Qurban adalah ruang bagi manusia untuk memperbaiki diri. Baik menata kembali kualitas hubungan dengan Allah SWT, maupun dengan sesama makhluk.

Hal demikian disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Hamdhani saat menjadi khotib di Mesjid Al Falah Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (01/09).

Haji, menurut Politisi NasDem ini, menyimpan semangat untuk berpasrah dan bermenung guna menyucikan diri dari dosa dan kembali ke Tanah Air dengan pribadi yang lebih baik. Sementara kurban, tiada lain adalah simbol kepedulian kepada sesama manusia sebagaimana amanat Islam. Tidak ada ibadah yang diterima Penguasa Langit, jika melupakan ibadah sosial kepada sesama makhluk di bumi.

“Kejayaan Islam dibangun di atas prinsip menebar rahmat kepada seluruh alam. Begitu juga, perjuangan ulama dahulu dalam mendukung kemerdekaan Indonesia tak lain bertumpu pada kecintaannya terhadap negara sebagai medan untuk beribadah,” kata Hamdhani.

Pada kesempatan tersebut, Hamdhani mengajak masyarakat untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi. Ibadah kurban menuntut seorang Muslim untuk menyisihkan sebagian dari apa yang dimiliki. Bukan sekadar bermakna mengorbankan uang untuk membeli hewan atau yang telah dikeluarkan sebagai ongkos naik haji. Akan tetapi, berkorban bisa juga melalui niat, gagasan, serta tekad untuk membangun negara, juga mewujudkan perdamaian dunia sebagai mana ajaran utama agama Islam.

“Mari kita korbankan kepentingan kita, ego kita, nafsu pribadi kita, dengan mengasihi dan menyayangi antarsesama kelompok dan masyarakat, demi kejayaan Islam dan persatuan Indonesia,” pungkas Hamdhani.(*)